Tiga Cara Manusia Bereaksi terhadap Kegagalan
Khoo dan Tan (2013) mengemukakan tiga cara manusia bereaksi terhadap kegagalan. Tiga poin ini benar-benar sering dijumpai dalam lingkungan sekitar. Menjadi sangat menarik apabila telah diketahui jenis-jenisnya, perbedaan diantara ketiganya, menganalisa dipoin berapakah kita, kemudian mengubahnya dengan bereaksi sesuai dengan poin yang diharapkan hingga akhirnya berujung pada keberhasilan. Ingat, semua orang berhak sukses. Terlepas dari apa persepsi Anda tentang sukses; entah itu mendapat beasiswa untuk kuliah di luar negeri, mendapatkan proyek besar, atau menguasai ilmu-ilmu tertentu. Berikut ini poin-poinnya.
Mencari Alasan, Mencari Kambing Hitam, Lalu Menyerah
Poin ini didaulat sebagai poin terendah terkait cara manusia bereaksi terhadap kegagalan. Ketika menjumpai kegagalan, maka pertama-tama yang dilakukan oleh orang dengan tipe ini adalah mencari alasan mengapa ia gagal, kemudian pembicaraannya akan beralih ke orang atau keadaan yang menyebabkan kegagalannya, lalu diakhir pembahasan ia akan menyerah dengan mengungkapkan berbagai jenis kalimat yang intinya akan bermuara pada "ini mustahil dilakukan". Adalah saat-satt dimana kita merasakan keadaan seperti ini? Jika ya, seberapa besar frekuensinya? Sering kah? Kadang-kadang kah? atau bahkan sangat jarang? Ada baiknya Anda mengingat dan mencatatnya lalu bandingkan dengan poin-poin berikutnya.
Terus Berpegang pada Pendirian yang Sama
Orang-orang dengan tipe ini sebenarnya hampir sama dengan poin sebelumnya. Namun, poin ini jauh lebih bagus dibanding poin sebelumnya. Orang-orang dengan tipe ini, ketika mengalami kegagalan, maka mereka akan terus mencoba. Alasan kegagalan yang dikemukakan pada umumnya adalah seperti "Saya sudah berusaha namun belum maksimal", "Jika saya mencoba hal ini tanpa putus asa, maka tentu saya akan berhasil". Orang-orang dengan tipe ini memang pantang menyerah dan memiliki motivasi yang lebih besar dibandingkan dengan tipe pertama.
Lalu, apakah orang dengan tipe seperti ini akan berhasil mengatasi kegagalannya? Jawabannya tergantung strategi yang digunakannya. Ada tipe orang yang mengalami kegagalan yang sama secara terus menerus namun dengan giat mencoba lagi dan mencoba lagi dan hasilnya tetap berujung pada kegagalan. Jika strateginya diubah, maka hasilnya akan berubah pula. Meskipun giat mencoba dan mencoba, jika percobaan berikutnya masih dilakukan dengan strategi yang sama seperti pada percobaan sebelumnya, maka hasilnya tentu akan sama.
Pernah dengar cerita tentang Thomas Alfa Edison? Konon ia menghabiskan 10.000 percobaan hanya untuk menemukan bola lampu. Ketika ditanya terkait kegagalannya, ia hanya tertawa dan menganggap bahwa ia tidak pernah merasa gagal. Terkait 10.000 percobaan itu, semuanya berhasil. Ia menemukan 9.999 cara salah membuat boa lampu, dan pada percobaan ke-10.000 ia baru bisa merampungkan penemuannya. Ketika seseorang menggunakan strategi atau cara yang sama secara terus-menerus, maka tentu hasilnya akan sama; gagal terus-menerus.
Mempelajari Situasi, Ubah Strategi, Action
Tipe ini adalah tipe yang terbaik jika dibandingkan dengan dua tipe sebelumnya. Orang-orang dengan tipe ini, ketika mereka mendapati diri mereka berada dalam jurang kegagalan, maka mereka akan mempelajari situasi atau dengan kata lain mereka akan mencari umpan balik (feedback) lalu mengubah strategi yang setelah itu mencoba lagi hingga ia benar-benar berhasil.
Thomas Alfa Edison adalah salah satu contoh dari manusia yang bereaksi terhadap kegagalan dengan tipe ini; meskipun kegagalannya dimodifikasi dengan kalimat bahwa ia tidak gagal. Mengapa demikian? Thomas Alfa Edison melakukan strategi salah yang pertama, kemudian mempelajari situasi yang menyebabkan kegagalannya, lalu merencanakan dan mengeksekusi strategi kedua, lalu berujung kepada kegagalan lagi, mencari umpan balik lagi, menetapkan strategi ketiga, lalu mengeksekusinya, lalu gagal lagi. Begitu seterusnya hingga menghabiskan sebanyak 10.000 kali percobaan. Ia benar-benar mencoba hingga apa yang ia inginkan keudian ia dapatkan; berhasil. Pernahkah Anda berada pada situasi seperti ini? Catat berapa kali Anda mengalaminya dan bandingkan dengan dua tipe sebelumnya.
Selain Thomas Alfa Edison, manusia lain yang bisa dijadikan contoh adalah anak balita. Yah, anak-anak memang contoh terbaik dalam hal cara bereaksi terhadap kegagalan. Perhatikan anak balita yang sedang belajar jalan. Ia akan jatuh dan menangis karena merasa kesakitan. Bangkit lagi, jatuh lagi, menangis lagi karena sakit. Bangkit lagi, jatuh lagi, dan menangis kesakitan lagi. Tak jarang ia mendapatkan benjol akibat percobaannya; bahkan kadang berdarah. Ketika orang tuanya menggendongnya, ia akan memberikan kode ingin turun ke lantai dengan mendorong bahu orang tuanya dan meronta-ronta sambil menangis hanya untuk belajar berjalan. Padahal ia sudah tahu jelas akibatnya jika jatuh dan gagal; mungkin benjol lagi atau berdarah lagi. Namun, apakah pada akhirnya ia menyerah untuk bisa berjalan? Keesokan harinya setelah bangun, apa yang ia lakukan? Berdiri sambil berpegang pada tembok atau meja, melepaskan pegangan dan mulai berjalan, dan jatuh lagi. Begitu seterusnya hingga akhirnya ia tidak bisa diam karena sibuk memamerkan kemampuannya berlari. Pada mulanya ia hanya ingin berjalan, namun akhirnya ia malah hobi berlari.
.jpg)
