Semua Orang Berhak Sukses. Alasannya?
Mungkin kita sering mendengar ujaran dan membaca tulisan para motivator sukses yang mengatakan bahwa "semua orang berhak sukses". Banyak orang yang kemudian merasa antusias ketika mendapatkan input seperti itu namun kemudian seiring berjalannya waktu mereka kembali lagi pada kebiasaan lama. Berikut ini akan dikemukakan alasan mengapa semua orang berhak untuk sukses.
Modal yang sama
Berhak dalam hal ini dapat dimaknai mempunyai potensi. Hal ini berlaku untuk semua orang terlepas dari suku, ras, agama, bahkan mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Selama masih manusia, maka sukses kemudian menjadi sebuah hak. Mengapa demikian? Itu karena setiap manusia dilahirkan dengan membawa bekal yang sama; yaitu otak dengan 1.000 Milyar sel saraf (neuron).
Dalam dekade terakhir ini, ditemukan fakta dalam ilmu neurologi (ilmu tentang otak) yang cukup menarik. Dikatakan bahwa setiap manusia mempunyai saraf dan jaringan saraf yang sama. Statement tersebut berasal dari dua buku yang berjudul "Teaching with Brain in Mind" dan "Master your Mind Design your Destiny". Lalu, apa yang membedakan orang yang satu dan orang yang lainnya? Mungkin ada yang berkata karena ia lebih pintar dan lebih cerdas. Ada juga yang mengira bahwa otak si sukses lebih encer dan lebih efektif. Faktanya, modal kita sama; sama-sama mempunyai otak dengan jumlah neuron yang sama. Hal yang membedakan orang sukses dan kebalikannya adalah mereka yang sukses memiliki daya penggerak yang lebih efektif.
Analogi terbaik untuk hal ini adalah komputer yang terdiri dari hardware dan software dimana hardware merujuk kepada bentuk fisik otak sementara software dalam artikel ini diistilahkan sebagai 'daya penggerak'. Secanggih apapun komputer milik Anda, jika software didalamnya tidak bekerja dengan baik, maka hasilnya tentu akan sangat jauh dari harapan.
Khoo dan Tan (2013) menuliskan bahwa seandainya dibuat sebuah komputer super yang kemampuannya dapat menyamai otak manusia, maka komputer tersebut akan sepanjang lima puluh kali panjang lapangan sepak bola dan setinggi Patung Liberty. Untuk perangkat sebesar itu, bayangkan berapa mega-watt listrik yang dibutuhkan untuk menghidupkannya. Bayangkan, otak manusia dapat bekerja hanya dengan daya listrik dibawah 10 watt saja.
Berdasar penelitian, dikatakan bahwa pikiran, kemampuan, dan keahlian manusia tidaklah ditentukan oleh jumlah sel otak, melainkan bagaimana sel-sel otak tersebut saling terhubung satu sama lain. Disinilah letak perbedaannya. Orang yang dianggap cerdas memiliki koneksi sel-sel otak lebih banyak. Mereka yang hebat dalam matematika berarti mereka memiliki lebih banyak sel-sel otak yang saling terkoneksi satu sama lain. Namun tidak berarti mereka juga hebat dalam hal berkomunikasi dan menggambar. Pada saat yang bersamaan, mereka mungkin merasa sulit berkomunikasi dan bergaul karena mereka memiliki koneksi sel-sel otak yang lebih sedikit ketimbang mereka yang tidak terlalu pandai dalam berhitung.
Teori ilmiah menyebutkan bahwa otak manusia terus mengalami perkembangan. Hal tersebut tergantung rangsangan yang diterimanya. Prof. Murakami dalam bukunya yang berjudul "The Miracle of DNA" menyarankan agar untuk berubah menjadi lebih positif, bangunkan DNA Anda yang tertidur yang salah satu caranya adalah dengan mengubah lingkungan. Dengan mengubah lingkungan, maka rangsangan terhadap otak akan berubah tergantung lingkungan yang kita pilih. Tidak heran jika orang bijak berkata "Jika Anda bergaul sama pencuri, maka Anda juga akan menjadi pencuri", agamawan berkata "Bergaullah bersama orang-orang yang sholeh", orang tua kita berkata "jangan bergaul sama si A karena dia nakal". Seekor elang yang apabila sejak lahir ditempatkan bersama ayam, maka elang tersebut niscaya akan merasa dirinya sebagai ayam yang tidak bisa terbang dan tidak seganas elang yang mampu memangsa dengan beringas. Bahkan ketika ia melihat elang lainnya terbang diudara, ia akan kagum. Ia tidak menyadari bahwa ia sama dengan apa yang dilihatnya. Lingkungan menentukan perspektif dan persepsi.
Selain Prof. Murakami, Khoo dan Tan (2013) juga menjelaskan hal yang sama dengan kalimat yang berbeda. Dikatakan bahwa jika kita dapat mencontoh skema mental pemenang, kita dapat mencontoh kesuksesan mereka. Perhatikan kata 'mencontoh' dalam kutipan diatas. Untuk mencontoh seseorang yang dianggap sukses, paling tidak kita harus mengetahui siapa orang tersebut. Tidak harus mengenalnya secara langsung. Melihatnya di TV dan membaca biografinya bisa juga dijadikan sebagai input untuk mengenal orang sukses tersebut lalu kemudian mencontohnya. Lagi-lagi, lingkungan yang menjadi penekanan.
Semua Orang Berhak Sukses
Jika mereka bisa, maka kitapun bisa. Mengingat kita memiliki modal yang sama, maka kemungkinan mendapatkan hasil yang sama sangatlah besar. Sukses adalah hak setiap manusia. Semuanya tergantung bagaimana kita menjalankan pikiran. Dalam dunia NLP (neuro-linguistic programming), dikenal istilah 'mental block'. 'Mental block' itulah yang seringkali menghambat kesuksesan seseorang. 'Mental block' dapat berarti batasan yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan akan kemampuan seperti "Saya merasa sangat sulit berbahasa Inggris", "Hingga akhir hayat, saya tidak akan pernah bisa bermain piano", "Sangat mustahil bagi saya untuk menyelesaikan studi". Dalam ketiga contoh ujaran tersebut, terdapat satu kesamaan; yaitu adanya batasan yang ditetapkan atas kemampuan kita. Ketika kita mengatakan "saya tidak bisa", "saya tidak akan mampu" maka berarti kita telah membatasi diri kita. Hingga akhir hayat, kita tidak akan pernah bisa menjadi seperti itu karena kita tidak akan pernah mencoba akibat adanya batasan yang kita tetapkan.
Terkait batasan yang dijelaskan pada paragraf diatas, ada satu solusi yang dikemukakan oleh praktisi NLP. Caranya adalah dengan melakukan reframing atau membingkai ulang. Bingkai ulang berarti mengubah persepsi terhadap apa yang dipersepsikan. Ingat, jika orang lain bisa, maka kitapun bisa. Jika elang bisa terbang dan memangsa, maka elang lainnyapun bisa terbang dan memangsa. Cerita tentang elang diatas adalah salah satu contoh 'mental block'.
Bayangkan jika dahulu Wright bersaudara menganggap bahwa manusia mustahil untuk terbang. Tentunya sekarang kita tidak akan bisa bepergian dengan pesawat terbang. Mereka menganggap bahwa manusia pasti bisa terbang. Anggapan tersebut kemudian menggiring mereka untuk mencari jalan dan mencari cara. Jadilah jarak ratusan kilo-meter dapat ditempuh hanya dengan hitungan jam; dengan pesawat. Bayangkan jika Larry Page dan Sergey Brin menganggap bahwa teknologi mesin pencari merupakan proyek mustahil, tentunya sekarang Anda tidak akan bisa membaca artikel ini karena Google tidak akan pernah ada.
Mengingat semua orang diciptakan dengan modal yang sama; dengan jumlah sel-sel otak atau neuron yang sama, maka semua orang berhak untuk sukses. Adalah kewajiban kita untuk memanfaatkan modal tersebut dengan baik. Dikatakan berhak untuk sukses karena kita semua memiliki potensi yang sama.
.jpg)
