Learning English and Bahasa Indonesia

Strategi Jitu Mempengaruhi Lawan Bicara


Perlu ditekankan bahwa dalam hal ini, istilah 'mempengaruhi' merujuk kepada hal positif yang dapat diartikan sebagai sebuah seni dalam membuat lawan bicara menyetujui dan melakukan ide atau gagasan yag kita sampaikan yang apabila tidak disampaikan maka lawan bicara tidak akan melakukannya. Pada pembahasan yang bernaung dibawah bendera 'komunikasi efektif' berikut, akan dijelaskan mengenai strategi jitu mempengaruhi lawan bicara yang dituliskan berdasarkan formulasi beberapa ahli komunikasi. 

Banyak kalangan yang mengarahkan makna 'mempengarui' sebagai makna negatif yang berarti mengajak kepada hal-hal yang bertentangan dengan norma. Dalam hal ini, kita akan mengurai makna positif terkait istilah 'mempengaruhi' sesuai dengan definisi yang telah disebutkan pada paragraf pembuka diatas. Terdapat dua hal penting yang menjadi kunci keberhasilan dalam upaya mempengaruhi lawan bicara. Adapun kedua poin tersebut antara lain:

Empati - Mempengaruhi Lawan Bicara

Secara sederhana, empati dapat didefinisikan sebagai upaya untuk memahami pikiran dan perasaan lawan bicara. Poin ini sangat penting dalam upaya mempengaruhi lawan bicara mengingat fungsi dari empati adalah sebagai pintu memasuki alam bawah sadar lawan bicara. Menunjukkan empati, secara psikologis, akan membuat lawan bicara bersifat lebih terbuka dalam menyampaikan ide dan perasaan. Ketika keterbukaan telah ditunjukkan, maka kita akan dengan sangat mudah mengarahkan lawan bicara menuju maksud yang kita kehendaki.

Adapun cara untuk menunjukkan empati haruslah melalui beberapa tahapan. Banyak tidaknya tahapan yang harus dilalui bersifat kondisional, yang berarti akan disesuaikan dengan kondisi lawan bicara. Pada umumnya, tidak satupun manusia yang tidak ingin diperhatikan. Semua butuh perhatian. Berkaitan dengan kondisi dan karakter lawan bicara, paling tidak, Anda harus menganalisis terlebih dahulu tipikal lawan bicara Anda apakah ia adalah seorang yang dominan 'visual', 'auditory', atau 'kinaesthetic'. 

Fisiologi

Berkaitan dengan poin ini, jadilah pendengar atau penyimak yang baik. Menyimak dapat dilakukan dengan menunjukkan fisiologi, sikap, dan perilaku terbuka. Pada tahap awal, pancinglah lawan bicara Anda untuk mengeluarkan ide dan gagasannya dan tunjukkan sikap yang ramah dan bersahabat. Pada saat lawan bicara menyampaikan sikapnya, perhatikan fisiologi Anda secara sadar dengan memperhatikan setiap detail dari gerak tubuh Anda. Sikap yang baik dalam berkomunikasi adalah dengan menghadapkan tubuh dan wajah Anda pada lawan bicara. Pada saat komunikasi berlangsung, secara bersamaan, lakukan juga 'eye contact'. Tatap mata lawan bicara pada saat menyimak dan merespon. Adanya kontak mata, secara psikologis, akan membuat lawan bicara Anda merasa diperhatikan sehingga mereka akan bersifat lebih teruka dalam menyampaikan ide, gagasan, dan perasaan. Terkait tahapan ini, baca lebih lanjut pada artikel yang berjudul 'Membangun Hubungan dengan Teknik Mirroring and Matching'.

Menunjukkan fisiologi yang hangat dan bersahabat mungkin terkesan sangat sepele, namun hal ini merupakan salah satu kunci penting yang dapat menunjang keberhasilan komunikasi. Pada tingkatan yang lebih dalam, tirulah fisiologi yang ditunjukkan lawan bicara Anda. Video dibawah mungkin dapat mengubah persepsi Anda tentang fisiologi yang pada awalnya dianggap sebagai hal yang sepele menjadi hal yang sangat penting.

 

Pola Nafas

Pada saat proses komunikasi berlangsung, atur pola nafas Anda secara sadar. Perhatikan pola nafas lawan bicara Anda dan sesuaikan naik-turunnya dengan memperhatikan sejenak bahu bagian atas dari lawan bicara Anda. Menyamakan pola nafas dan fisiologi berarti Anda telah menggunakan metode komunikasi efektif ala NLP (Neuro-linguistic Programming) sebagai salah satu bagian dari peniruan fisiologi lawan bicara. Menyamakan pola nafas memang terbilang sepele, namun hal ini termasuk sebagai tahapan penting yang menunjang keberhasilan komunikasi. Setelah beberapa kali pengujian, Anda akan mengetahui bagaimana tahapan ini menjadi salah satu kunci sukses dalam menjalin komunikasi efektif terhadap lawan bicara.

Ketulusan - Mempengaruhi Lawan Bicara

Ketulusan berkaitan dengan kesediaan dan keikhlasan. Poin ini sebenarnya merupakan poin penunjang dari poin sebelumnya; yaitu empati. Ketulusan yang ditunjukkan dalam sebuah komunikasi akan berujung pada terjalinnya kepercayaan yang erat antara Anda dan lawan bicara Anda. Aristoteles menekankan tiga poin utama dalam seni mempengaruhi, yaitu 'ethos' (etika, karakter, dan reputasi), "pathos' (daya tarik emosional), dan 'logos' (logika; berlandaskan fakta). Kepercayaan sebagai bagian dari pathos akan menumbuhkan daya tarik emosional dari lawan bicara Anda. Ketika kepercayaan telah terbangun, maka akan sangat mudah bagi kita untuk melancarkan ide, gagasan, dan pemikiran kita untuk kemudian disetujui dan dilakukan oleh lawan bicara.

Pada poin ini, jangan berbicara pada saat lawan bicara sedang berbicara. Tunjukkan ketulusan Anda senatural mungkin. Buatlah lawan bicara Anda merasa bahwa Anda merupakan partner yang baik. Jangan menyela atau memotong pembicaraan.

Pemilihan Bahasa - Mempengaruhi Lawan Bicara

Pada paragraf diatas, sedikit disinggung mengenai karakter atau tipikal lawan bicara. Karakter atau tipikal yang dimaksud dalam hal ini antara lain: visual, auditori, dan kinestetik. Sesuaikan pemilihan bahasa dengan karakter atau tipikal lawan bicara Anda. Cara terbaik, menurut NLP, dalam mengenal dan menyesuaikan tipikal dan karakter lawan bicara adalah dengan memperhatikan pola bahasa yang ia gunakan; dalam hal ini, fokuslah ke kata kerja yang digunakan lawan bicara. Kata kerja yang dikeluarkan atau digunakan mencerminkan tipikal lawan bicara.

Untuk orang yang dominan visual, mereka akan cenderung menggunakan kata kerja yang berhubungan dengan sesuatu yang bisa dilihat; 'lihat', 'simak', 'perhatikan', dan lain sebagainya. Orang yang dominan auditori akan cenderung menggunakan kata kerja seperti 'dengar', dan orang yang dominan kinestetik akan cenderung menggunakan kata kerja 'rasa', 'merasakan', dan lain sebagainya.

Setelah melewati beberapa tahapan diatas, langkah selanjutnya yang perlu Anda lakukan adalah mulai melancarkan serangan. Dalam poin ini, hal yang perlu Anda lakukan adalah menyebutkan (bahkan mengulangi) kata kerja yang sering mereka gunakan pada saat Anda hendak melancarkan ide dan gagasan atau perasaan Anda kepada lawan bicara. Secara psikologis, mereka akan merasa tertarik dengan Anda karena mereka, secara tidak sadar, akan menganggap Anda adalah orang yang menarik dan setipe dengan lawan bicara Anda. Sampaikan ide dan gagasan Anda dengan tetap mempertahankan visiologi, pola nafas dan ketulusan Anda.