Langkah Jitu Menyikapi Kegagalan
Jangan tunggu keadaan berubah. Untuk mengubah keadaan, ubahlah keadaanmu terlebih dahulu. Mungkin Anda sudah bosan mendengar atau membaca kalimat tersebut. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, maka akan nampak benang hitam dari benang putih. Berhentilah menyalahkan keadaan dan mencari kambing hitam. Berhentilah mencari siapa yang bersalah atas semuanya. Ubah mindset tersebut dengan pola pikir yang memberdayakan. Menemukan dan menyalahkan keadaan atau orang lain dibalik kegagalan Anda hanya akan membuat Anda makin terlena dalam kegagalan dan terpuruk didalamnya. Konversi kegagalan menjadi keberhasilan. Anda adalah pemegang kendali atas hidup Anda. Anda adalah penentu nasib dan takdir Anda sendiri. Berikut ini merupakan Langkah Jitu Menyikapi Kegagalan.
Pada artikel pertama dari tema ini, telah dibahas mengenai 'Karakteristik 5 Gelombang Otak Manusia'. Mengetahui karakteristik dari masing-masing gelombang otak sangatlah bermanfaat dalam upaya melakukan perubahan dari dalam dalam mencapai 'inner-peace'. Mengetahui dengan jelas tentang gelombang otak akan sangat bermanfaat untuk melakukan konversi kegagalan menjadi keberhasilan. Ini adalah langkah awal yang sangat memberdayakan. Pada akhir artikel, Anda akan tahu jawabannya
Menjadikan kegagalan sebagai umpan balik adalah langkah para pemenang. Beberapa buku menjelaskan bahwa ada kesamaan pola pikir antara para pemenang, salah satunya hal yang sama yang mereka percayai adalah 'Kegagalan adalah umpan balik'.
Apa yang kita pikirkan, baik itu positif atau negatif, akan melalui tahapan-tahapan diatas. Seperti itu informasi yang didapatkan dari seorang pakar bernama Dr. Ibrahim Elfiky. Dalam bukunya, beliau menjelaskan bahwa pikiran merupakan ladang persepsi, atau dengan kata lain, pikiran manusia dipenuhi dan tidak pernah lepas dari persepsi. Manusia merespon kepada apa yang menarik perhatiannya berdasarkan subjektifitasnya. Manusia merespon tidak secara objektif, melainkan berdasarkan persepsinya terhadap objek. Sebagai bukti dari pernyataan ini, pada banyak kasus dapat dijumpai dua orang yang mengalami kejadian yang sama namun respon yang dikeluarkan akan berbeda. Contohnya, pada musim paceklik, perusahaan melakukan PHK (pemutusan hubungan kerja) besar-besaran. A dan B adalah dua orang yang kena PHK. Baik A maupun B, keduanya akan menanggapi kenyataan tersebut berdasarkan subjektifitas mereka masing-masing atau berdasarkan persepsi mereka masing-masing. A menanggapinya sebagai hal positif karena ia berpersepsi bahwa PHK merupakan sebuah kesempatan untuk mencari pekerjaan baru yang lebih sesuai dengan minat dan bakatnya. Disisi lain, B menanggapi PHK sebagai sebuah penghianatan atas jasanya yang telah bertahun-tahun mengabdi pada perusahaan tersebut.
Mengubah persepsi tidak berarti mencari pembenaran atau sebagai ajang menghibur diri. Benar, PHK merupakan hal yang tidak diinginkan, namun berfokus pada hal negatif tentu tidak memberdayakan. Terlebih lagi jika pikiran dan fokus terjadi secara berulang-ulang dan tanpa disadari. Hal ini akan berefek pada sikap dan perilaku negatif. Sikap dan perilaku negatif tersebut kemudian akan menghasilkan pikiran dan pengalaman baru yang juga negatif. Begitu seterusnya hingga Anda merasa hampa.
Mengubah persepsi dapat dilakukan dengan melakukan dialog batin kepada diri sendiri dengan menanyakan, 'Apa hikmah yang dapat diperoleh dari kejadian ini?' atau ' Hal menguntungkan apa yang tersembunyi dari kejadian ini?'. Perhatikanlah pada bagaimana biasanya Anda merespon sebuah kejadian atau peristiwa kemudian bertindaklah seolah-olah yang mengalaminya adalah orang lain dan berikan komentar Anda terkait peristiwa yang dialami oleh orang lain tersebut secara positif. Geser sudut pandang Anda hingga Anda benar-benar merasa nyaman dengan persepsi baru Anda. Selanjutnya, gunakan pola yang sama ketika Anda berpikiran negatif. Pikirkan secara terus menerus sehingga menjadi sebuah fokus atau konsentrasi. Setelah menjadi konsentrasi positif, maka secara otomatis akan berefek pada perasaan yang positif hingga akhirnya menjadi sebuah sikap dan perilaku positif.
Artikel ini disadur dari beberapa sumber tentang pemberdayaan diri yang diterbitkan dengan didasarkan atas dua tujuan. Tujuan pertama adalah untuk membantu Anda yang sedang putus asa untuk menyikapi kegagalan, sedangkan tujuan kedua adalah untuk mengkonversi input menjadi output berdasarkan apa yang telah kami baca. Semoga membantu...
Kegagalan adalah Umpan Balik
Banyak yang menyangka bahwa kegagalan merupakan akhir dari segalanya. Bagi sebagian besar mereka yang 'percaya', kegagalan diartikan sebagai umpan balik yang mesti segera diperbaiki. Adapun cara untuk memperbaikinya adalah dengan mengatur strategi baru menuju hasil yang berbeda. Einstein berkata dalam kutipannya, 'gila adalah mengharapkan hasil yang berbeda dengan melakukan hal yang sama'. Pepatah Cina mengatakan, 'jika Anda melakukan hal yang sama, maka Anda akan mendapatkan hasil yang sama'. Oleh Sokrates, seorang filsuf Yunani yang terkenal, keadaan ini diistilahkan sebagai 'hukum sebab-akibat'; yaitu apa yang Anda tanam, itu pula yang Anda tuai. Jika Anda menanam benih pisang, maka mustahil Anda akan menuai buah apel.Menjadikan kegagalan sebagai umpan balik adalah langkah para pemenang. Beberapa buku menjelaskan bahwa ada kesamaan pola pikir antara para pemenang, salah satunya hal yang sama yang mereka percayai adalah 'Kegagalan adalah umpan balik'.
Kegagalan adalah Pintu Keberhasilan
Apakah mutlak seperti ini? Jawabannya tidak. Kegagalan dikatakan sebagai pintu keberhasilan hanya jika kegagalan tersebut direspon sebagai cambuk positif untuk mencoba lagi. Seorang mantan menteri Indonesia, Dahlan Iskan, mengatakan, 'habiskan jatah gagalmu pada usia muda'. Lewat kutipan tersebut, beliau hendak menjelaskan bahwa kegagalan merupakan hal yang wajar. Buktinya, adanya kata 'habiskan' menegaskan bahwa kegagalan itu eksis sebagai pemanis dan pewarna perjuangan. Meskipun ada yang langsung berhasil hanya dalam satu kali percobaan, namun hal tersebut persentasenya sangat sedikit.Mengubah persepsi
Para pakar Neurologi meyakini bahwa dalam otak manusia terkandung 1000 miliar sel. Hal tersebut menegaskan bahwa semua dari kita memiliki modal atau hardware yang sama. Pikiran yang dihasilkan melalui aktivitas otak kita akan menimbulkan konsentrasi atau fokus, entah itu disadari atau tidak. Setelah pada tahap fokus, pikiran akan diteruskan ke perasaan dan oleh perasaan, signal tersebut akan direspon dengan mengirim signal kembali ke pikiran untuk kemudian ditambah dayanya. Pada tahap ini, pikiran akan mencari arsip-arsip sejenis yang mendukung hal yang kita pikirkan. Begitu seterusnya hingga pada akhirnya pikiran menjelma menjadi sikap dan perilaku.Apa yang kita pikirkan, baik itu positif atau negatif, akan melalui tahapan-tahapan diatas. Seperti itu informasi yang didapatkan dari seorang pakar bernama Dr. Ibrahim Elfiky. Dalam bukunya, beliau menjelaskan bahwa pikiran merupakan ladang persepsi, atau dengan kata lain, pikiran manusia dipenuhi dan tidak pernah lepas dari persepsi. Manusia merespon kepada apa yang menarik perhatiannya berdasarkan subjektifitasnya. Manusia merespon tidak secara objektif, melainkan berdasarkan persepsinya terhadap objek. Sebagai bukti dari pernyataan ini, pada banyak kasus dapat dijumpai dua orang yang mengalami kejadian yang sama namun respon yang dikeluarkan akan berbeda. Contohnya, pada musim paceklik, perusahaan melakukan PHK (pemutusan hubungan kerja) besar-besaran. A dan B adalah dua orang yang kena PHK. Baik A maupun B, keduanya akan menanggapi kenyataan tersebut berdasarkan subjektifitas mereka masing-masing atau berdasarkan persepsi mereka masing-masing. A menanggapinya sebagai hal positif karena ia berpersepsi bahwa PHK merupakan sebuah kesempatan untuk mencari pekerjaan baru yang lebih sesuai dengan minat dan bakatnya. Disisi lain, B menanggapi PHK sebagai sebuah penghianatan atas jasanya yang telah bertahun-tahun mengabdi pada perusahaan tersebut.
Mengubah persepsi tidak berarti mencari pembenaran atau sebagai ajang menghibur diri. Benar, PHK merupakan hal yang tidak diinginkan, namun berfokus pada hal negatif tentu tidak memberdayakan. Terlebih lagi jika pikiran dan fokus terjadi secara berulang-ulang dan tanpa disadari. Hal ini akan berefek pada sikap dan perilaku negatif. Sikap dan perilaku negatif tersebut kemudian akan menghasilkan pikiran dan pengalaman baru yang juga negatif. Begitu seterusnya hingga Anda merasa hampa.
Mengubah persepsi dapat dilakukan dengan melakukan dialog batin kepada diri sendiri dengan menanyakan, 'Apa hikmah yang dapat diperoleh dari kejadian ini?' atau ' Hal menguntungkan apa yang tersembunyi dari kejadian ini?'. Perhatikanlah pada bagaimana biasanya Anda merespon sebuah kejadian atau peristiwa kemudian bertindaklah seolah-olah yang mengalaminya adalah orang lain dan berikan komentar Anda terkait peristiwa yang dialami oleh orang lain tersebut secara positif. Geser sudut pandang Anda hingga Anda benar-benar merasa nyaman dengan persepsi baru Anda. Selanjutnya, gunakan pola yang sama ketika Anda berpikiran negatif. Pikirkan secara terus menerus sehingga menjadi sebuah fokus atau konsentrasi. Setelah menjadi konsentrasi positif, maka secara otomatis akan berefek pada perasaan yang positif hingga akhirnya menjadi sebuah sikap dan perilaku positif.
Artikel ini disadur dari beberapa sumber tentang pemberdayaan diri yang diterbitkan dengan didasarkan atas dua tujuan. Tujuan pertama adalah untuk membantu Anda yang sedang putus asa untuk menyikapi kegagalan, sedangkan tujuan kedua adalah untuk mengkonversi input menjadi output berdasarkan apa yang telah kami baca. Semoga membantu...
.jpg)
